Senin, 28 Desember 2009

Aransi Sederhana

Home
Teknik aransi marching band sederhana (Bagian 2..habis) PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Marko S Hermawan*
Selasa, 12 Mei 2009
Setelah berbagi ilmu untuk mereka bermain pianika, tibalah saatnya untuk memberi tips kepada mereka yang bermain alat tiup logam (brass). Pada prinsipnya kita tetap akan memakai pedoman teori sebelumnya, yaitu Linear Balance dan Doublings. Terutama teknik doublings, ada beberapa cara untuk mengaplikasikan teknik ini. Ada satu teknik tambahan untuk melengkapi aransi pada alat tiup logam, yang diambil dari artikel oleh Thomas E Slaubaugh II, berjudul “A Quantitative Approach to Ensemble Dynamics” (2005). Adapun artikel ini mengatakan bagaimana tips untuk mengatur dinamik sebuah orkestra/band, dengan mengkuantifikasi (mem-presentase-kan) tanda dinamik pada sebuah musik.


Berikut adalah tabel dasar kuantitatif tanda dinamik:

Tanda dinamik
Volume diri sendiri
Volume section lain
fff
80 %
20 %
ff
70 %
30 %
f
60 %
40 %
mf
50 %
50 %
mp
40 %
60 %
p
30 %
70 %
pp
20 %
80 %
ppp
10 %
90 %

Dari tabel diatas dapat disimpulkan, apabila sebuah section bermain fortessimo (ff), maka velositas suara section tersebut adalah 70% lebih keras dari suara section lainnya. Dalam keadaan velositas seimbang antar section, sebaiknya menggunakan tanda mf, agar semua section terdengar dengan rata.

Dalam hal ini pembahasan akan dijelaskan cara praktis mengaransi band skala kecil, yaitu Small Band. Kategori ini adalah kategori untuk band dengan komposisi alat tiup logam skala kecil. Biasanya pemain tiup berjumlah 30-40 orang, dengan komposisi trumpet, flugel horn, mellophone dan trombone/baritone. Bagaimana menyiasati keterbatasan alat namun tetap bermain indah dan harmonis?

Sebelum menelaah cara aransi untuk band tipe ini, cobalah untuk menganalisa karakteristik suara yang timbul. Anggaplah dalam sebuah band terdiri dari 12 trumpet, 4 flugel horn, 4 mellophone, dan 6 trombone dan 4 baritone.

Teknik linear balance paling sederhana adalah menggunakan 4 bagian, antara lain:
- Trumpet 1 (6 pemain) memainkan MM
- Trumpet 2 (6 pemain) memainkan MMH
- Flugel & Mellophone memainkan CM
- Trombone & Baritone memainkan SHM (biasanya suara bass)

Sedangkan teknik doublings yang cocok untuk pembagian suara diatas adalah:
- Trumpet 1 doubling dengan Flugel
- Trumpet 2 doubling dengan Mellophone
- Trombone doubling dengan Baritone (terkadang bisa doublings 1 oktaf)

Yang patut diperhatikan adalah ketebalan dan intensitas masing-masing fungsi/section. Sangatlah mudah untuk membagi-bagi suara diatas secara sederhana, namun merupakan tantangan berat untuk mem-balance keempat suara tersebut. Oleh sebab itu sang arranger WAJIB mengerti tanda dinamik, dan sebaiknya (dibaca: seharusnya) menulis aransemen pada not balok.


Sebagaimana yang rekan-rekan ketahui bahwa tanda dinamik memegang peranan penting untuk mendukung harmonisasi. Dengan kesamaan tipe brass, maka akan sulit untuk mengetahui yang mana melodi dan yang mana harmoni. Oleh sebab itu, teknik kuantitatif dinamik diatas akan membantu mengalokasikan fungsi suara tiap section. Biasanya dalam keadaan suara seimbang, MM mempunyai volume mf, sedangkan yang lain bervolume mp.



Berikut ada contoh kerangka aransemen untuk small band, dipadukan dengan fungsi section, doublings, dan saran tanda dinamik:

Fungsi Suara
Intro
Verse 1
Verse 2
Reff
Bridge
Reff 2 / Modulasi
Coda/Ending
Trumpet 1
MMH-DOH
RHM
MM
MM
SHM
MM
CM
Mf
p
Mf
F
Mp
F
F
Trumpet 2
MMH
RHM
MMH
MMH
SHM
MM-DOH
MMH
mf
p
Mp
Mf
Mp
F
F
Flugel
MMH
RHM
MM-U
CM-DOH
MM
CM
MMH
Mf
p
Mp
Mf
Mf
F
F
Mellophone
MM
RHM
RHM

CM
MM-DOL
CM
MM


F
p
Mp
Mf
Mf
F
F
Trombone

MM- DOL
MM-U
SHM
MMH
RHM
SHM
MM-DOL
Mf
Mf
Mf
Mf
Mp
Mf
F

Baritone

SHM-BL
MM-U
SHM-BL
SHM
RHM
SHM-BL
SHM-BL
mf
Mf
Mp
Mf
Mp
Mf
F

Pit Perc.

MM
RHM
RHM/CM
CM
MM
CM
MM/SHM
mf
mp
Mp
Mf
Mf
Mf
Mf
Batterie
MMH
-
RHM
RHM
RHM
RHM
SHM
mf mp mf mp mf Mf

Ket:
- DOH (Doubling octave higher/doubling 1 oktaf lebih tinggi)
- DOL (Doubling octave lower/doubling 1 oktaf lebih rendah)
- U (Unison/bernada sama)
- BL (Base line/suara bass)



Sekali lagi, ini adalah salah satu contoh penerapan aransemen yang sederhana. Masih banyak lagi cara mengaransi marching band yang lebih kompleks dan bervariasi. Yang penting, rekan-rekan tetap mempunyai semangat, keingintahuan dan rasa ‘mengulik’ aransemen yang tinggi, menjadi modal utama seorang arranger. Selamat bereksperimen !!

Salam,

Marbo

Referensi:
Bailey, Wayne, The Complete Marching Band Resource Manual, University of Pennsylvania Press, 1994
Banoe, Pono, Pengantar Pengetahuan Harmoni, Penerbit Kanisius, 2003
Slabaugh. T “A Quantitative Approach to Ensemble Dynamics”. [Article], The Music Director’s Cookbook: Creative Recipes for a Successful Program, Meredith Music Publication, 1st ed, USA, 2005

* Penulis adalah Staff pengajar Binus Business School & Endorser Jupiter Indonesia.


Baca juga :

Tentang Colour Guard

APLIKASI MENGENAL COLOR GUARD PADA MARCHING BAND BERBASIS MULTIMEDIA

1. UII Repository And Archive

View Archive Info
Field Value
Title APLIKASI MENGENAL COLOR GUARD PADA MARCHING BAND BERBASIS MULTIMEDIA
Creator Fadllun Rabbi-04 523 161
Subject aplikasi, color guard, multimedia, adobe creative suit 4
Description Color guard merupakan salah satu divisi di marching band, yang berfungsi
sebagai pemberi warna dan menjelaskan arti dari pagelaran di marching band,
secara harfiah berarti pasukan atau penjaga warna. Dalam setiap penampilannya,
color guard menggunakan equipment-equipment yaitu flag(bendera),
rifle(senapan), sabre(pedang). Untuk mendapatkan sebuah penampilan color guard
yang layak ditampilkan, memerlukan latihan yang ekstra serta pemahaman
tentang dunia color guard, namun sampai sekarang masih banyak yang kurang
dalam memahami bagaimana bermain dengan teknik atau cara bermain equipment
color guard dengan baik dan benar, padahal ini merupakan hal yang sangat vital
sekali. Hal ini dikarenakan kurangnya media yang membantu kearah
penyamarataan skill dalam bermain equipment color guard, dan kebanyakan
media informasi yang ada terpisah tidak dalam satu paket, misal dari buku dan
video. Tidak semua orang menyukai membaca buku ataupun berjam-jam
menghabiskan waktu hanya untuk menonton video-video color guard. Sebagai
pengantipasi hal tersebut, maka diperlukan sebuah media yang mengakomodir
keseluruhan, semua berada dalam satu media informasi berbasis multimedia.
Aplikasi mengenal color guard berbasis multimedia ini dibangun untuk
memudahkan user yang ingin mengetahui informasi seputar color guard. Sistem
ini dibangun berbasis multimedia agar lebih menarik dan memudahkan pengguna
memahami color guard secara menyeluruh.
Untuk mengetahui sejauh mana fungsi dan manfaat sistem ini bagi
masyarakat, telah dilakukan analisis sistem kepada 10 responden menggunakan
kuisioner. Berdasarkan hasil analisis dari responeden, didapat bahwa fitur yang
disajikan sudah baik, informasi yang disajikan sistem sudah baik, penguasaan
penggunaan sistem (user friendly) sudah baik digunakan, desain antarmuka
(interface)dan pemilihan warna pada sistem sudah baik, manfaat penggunaan
sistem sudah baik dan penggantian pengetahuan konvensional ke digital sudah
baik.
Publisher FTI T Informatika
Contributor Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom.,
Date 2009-11-12
Type pdf
Source Fak. Teknologi Industri
Language Indonesia

Teknik Aransi

Teknik aransi marching band sederhana (Bagian 1)


Oleh: Marko S Hermawan*

Sering kali ketika saya melakukan penjurian di berbagai daerah, terutama untuk Music Analysis Hornline caption, saya terkadang memberikan masukan dalam memperbaiki aransemen di alat tiup, baik itu horn maupun pianika. Banyak hal yang sepertinya harus diperbaiki dalam teknik mengaransi ini, karena yang terjadi di lapangan terkadang membuat saya ‘gregetan’ untuk membetulkannya. Di artikel sebelumnya, saya menjelaskan mengenai ‘benang merah’ saat pelatih ingin membuat suatu paket penampilan marching band. Disini akan dijelaskan secara sederhana bagaimana aransemen yang efektif dan enak didengar.

Teori dasar

Linear Balance
Saya memakai panduan yang diberikan oleh Prof. Gary Corcoran, seorang profesor musik dari Plymouth State University, Amerika, yang mengatakan bahwa dalam sebuah musik, terdapat 4 bagian utama berdasarkan fungsinya (Whaley, 2005):

  1. Melodic Material (MM)
    Ini merupakan bagian yang memainkan melodi atau materi utama. Termasuk didalamnya dalah harmonisasi pendukung melodi (MMH) yang mengikuti sepanjang permainan. Biasanya Trumpet 1 ditemani oleh trumpet 2 dan 3, atau Baritone 1 ditemani Baritone 2, dst.
  2. Countermelodic Material (CM)
    Merupakan melodi kontra jalur, yang mana merupakan cerminan berbentuk melodi namun bergerak berlawanan dengan melodi itu sendiri. Biasanya Mellophone memegang peranan ini.
  3. Rhythmic Harmonic Material (RHM)
    Suara ini merupakan background pembentu ritme dan ciri khas dari musik tersebut. Biasanya perkusi dan alat musik non melodic/countermelodic memegang peranan di sektor ini.
  4. Sustained Harmonic Material (SHM)
    Suara ini adalah lebih kepada nada-nada panjang mengiringi melodi dan pembentuk kord-kord tertentu.

Istilah diatas sebaiknya diperkenalkan juga kepada pemain, agar nantinya setiap progresi melodi dan lagu, mereka mengetahui bagian apa yang sedang mereka mainkan. Efek dinamik, interpretasi dan volume suara akan sangat membantu apabila mereka mengerti hal-hal ini.

Teknik Doublings (Penebalan)
Teknik ini juga disebut teknik penebalan nada, artinya nada yang sama dimainkan oleh 2 atau lebih alat tiup atau pukul. Berfungsi untuk menguatkan melodi dan atau harmoni. Doublings biasanya melihat banyaknya alat, variasi alat dan kemampuan pemain (Bailey, 1994). Tidak ada gunanya memainkan melodi untuk 40 pemain sekaligus karena akan berdampak kerasnya melodi tanpa adanya harmonisasi. Teknik ini akan dipakai untuk aransemen pianika maupun hornline.
Dari gambar disamping bisa dilihat bahwa suara oboe 1 dan violin 2 sama, sehingga oboe men-dobel violin 2. Satu hal yang harus diperhatikan dalam teknik doublings ini adalah, apabila hendak men-dobel suara dari tipe alat yang berbeda, tuning alat tersebut harus bagus, sehingga output suara menjadi satu. Sedangkan suara Basson dan Low string berfungsi sebagai SHM, dan violin 1 sebagai harmoni pendukung MM.


• Aransemen Pianika

Sebelum memulai aransi, ada baiknya melihat dulu kekuatan dan kemampuan pemain pianika unit anda. Sifat dan karakter alat musik ini adalah homogen, velositas (kekuatan) suara kecil, dan mudah ditiup/dimainkan oleh pelajar. Sebagai gambaran ideal jumlah pianika, biasanya terdiri dari minimal 30-40 pemain. Apabila jumlah yang dipakai, maka aransi yang bisa dilakukan adalah 2 suara sopran.

  1. Sopran 1
    Suara sopran 1 biasanya mereka yang memainkan MM. Namun ada baiknya mereka juga mencoba untuk bermain CM, supaya bisa berbagi dan tidak mendominasi mereka yang bermain sopran 2.
  2. Sopran 2
    Mereka yang bermain disini adalah bagian SHM yang mengiringi melodi, atau bisa juga MM pembentuk harmonisasi MM. Bisa beralih fungsi dengan sopran 1, menjadi melodi utama.
  3. Pit Percussion
    Disini terkadang letak permasalahan. Sering kali unit yang saya nilai memakai teknik doubling sopran 1 dengan bells, sepanjang lagu. Ini menyebabkan suara bells terlalu mendominasi semua lagu, apalagi jika memiliki 6-8 bells, bermain bersamaan. Saran saya dengan bells yang cukup banyak, jadikanlah mereka sebagai RHM atau CM agar terdapat variasi melodi dan ritmitik yang indah, seperti arpeggio, chord, dll. Disarankan juga untuk menyesuaikan volume bells dengan pianika, agar tidak terlalu memekakkan telinga.
  4. Perkusi / Batterie
    Perkusi mempunyai andil besar terhadap tempo dan ritme dalam sebuah lagu. Sebagian besar fungsinya adalah di RHM. Perlu diperhatikan volume suara perkusi, agar tidak terlalu dominan saat pianika bermain melodi. Biasanya sang arranger perkusi akan menyesuaikan pola dan aransemen yang mendukung melodi tersebut.

Setelah menerapkan pembagian fungsi suara seperti diatas, usahakan pemain mengerti fungsi masing-masing bagian. Apabila sopran 1 bertindak sebagai MM, maka volume sopran 2 sebaiknya tidak menonjol, begitu pun sebaliknya. Disini diharapkan agar keseimbangan suara dapat terjadi. Dengan diberlakukannya ‘tugas & tanggung jawab’ dari sang arranger, maka pemain dapat menjalankan ‘kewajibannya’ memainkan lagu sesuai dengan aransemen, dengan baik dan benar. Sebagai gambaran, dibawah ini adalah contoh variasi pembagian fungsi suara untuk kelompok pianika:

Fungsi Suara
Intro
Verse 1
Verse 2
Reff
Bridge
Reff 2 / Modulasi
Coda/Ending
Sopran 1
SHM
MM
CM
MM
SHM
MM
CM
Sopran 2
MMH
SHM
MM
MMH
SHM
MMH
MMH
Pit
MM
RHM
RHM/CM
CM
MM
CM
MM/SHM
Batterie
MMH
-
RHM
RHM
RHM
RHM
SHM

Selamat mencoba…!!

Salam,
Marbo
* Penulis adalah Staff pengajar Binus Business School & Endorser Jupiter Indonesia.

Tehnik Memegang Stick Drum

Ada 2 cara untuk memegang stick:

1. Matched grip

Teknik memegang stick Matched grip dibagi menjadi 2 cara juga yaitu:

  1. Tangan tertutup atau closed hand dimana pukulan sangat mengandalkan lengan dan pergelangan tangan sehingga pukulan juga kaku dan mngakibatkan tangan menjadi lebih cepat lelah
  2. Tangan terbuka atau open hand, dimana ibu jari dan telunjuk yang digunakan untuk menjepit stick, sedangkan ketiga jari lainnya berfungsi untuk mendorong stick. Ketika stick yang didorong menyentuh drumhead, maka secara otomatis stick akan memantul kembali, gunakan pantulan itu untuk membuat pukulan berikutnya. Lakukan secara berulang-ulang.

2. Traditional grip

Perbedaannya pada tangan kiri, dimana stick dijepit pada ibu jari dan ditaruh diantara jari tengah dan jari manis. Ibu jari yang berperan untuk mendorong stick drum. Sedangkan untuk tangan kanan cara pemegangannya tidak ada perbedaan, traditional grip memang lebih sulit untuk dilakukan daripada matched grip karena untuk mengontrol tangan kiri lebih susah.

Awal Dari Traditional grip

Traditional merupakan cara memegang stik yang paling pertama digunakan, dimulai dari tahun 1600. traditional grip diperlukan untuk keperluan drummer marching band pada saat itu dimana mereka menaruh snare drum dengan cara mengikatnya. Dan talinya dilingkarkan ke bahu sehingga posisi snare drum miring ke arah kanan. Karena posisinya miring ke arah kanan, maka tangan kiri memakai grip yang berbeda dengan tangan kanannya karena untuk meraih snare drum tersebut. Tangan kiri memegang stick ditaruh diantara 2 pasang jaridan dijepitkan di ibu jari.

Tahun 1840 drumset baru ditemukan (snare, bass, dan tom-tom) dimana tiga drum dimainkan dengan satu orang. Karena traditional grip merupakan kebiasaan turun-temurun yang berawal dari marching band maka traditional grip digunakan pada drumset.

Tentang Marching Band










Marching band adalah istilah dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada sekelompok barisan orang yang memainkan satu atau beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik (tiup, perkusi, dan sejumlah instrumen pit) secara bersama-sama. Penampilan marching band merupakan kombinasi dari permainan musik (tiup, dan perkusi) serta aksi baris-berbaris dari pemainnya. Umumnya penampilan marching band dipimpin oleh satu atau dua orang komandan lapangan dan dilakukan baik di lapangan terbuka maupun lapangan tertutup dalam barisan yang membentuk formasi dengan pola yang senantiasa berubah-ubah sesuai dengan alur koreografi atas lagu yang dimainkan, dan diiringi pula dengan aksi tari yang dilakukan oleh sejumlah pemain bendera.

Marching band umumnya dikategorikan menurut fungsi, jumlah anggota, komposisi dan jenis peralatan yang digunakan, serta gaya/corak penampilannya. Pada awalnya marching band dikenal sebagai nama lain dari drum band. Penampilan marching band pada mulanya adalah sebagai pengiring parade atas perayaan ataupun festival yang dilakukan di lapangan terbuka dalam bentuk barisan dengan pola yang tetap dan kaku, serta memainkan lagu-lagu mars. Dinamika keseimbangan penampilan diperoleh melalui atraksi individual yang dilakukan oleh mayoret, ataupun beberapa personil pemain instrumen. Namun saat ini permainan musik marching band dapat dilakukan baik di lapangan terbuka ataupun tertutup sebagai sebagai pengisi acara dalam suatu perayaan, ataupun kejuaraan.

Komposisi musik yang dimainkan marching band umumnya bersifat lebih harmonis dan tidak semata-mata memainkan lagu dalam bentuk mars, ragam peralatan yang digunakan lebih kompleks, formasi barisan yang lebih dinamis, dan corak penampilannya membuat marching band merupakan kategori yang terpisah dan berbeda dengan drum band yang umumnya memiliki komposisi penggunaan instrumen perkusi yang lebih banyak dari instrumen musik tiup. Tipikal bentuk dan penampilan drum band yang paling dikenal adalah drum band yang dimiliki oleh institusi kemiliteran ataupun kepolisian. Adaptasi lebih lanjut dari penampilan marching band di atas panggung adalah dalam bentuk brass band.


SEJARAH

Marching Band bermula dari tradisi purba sebagai kegiatan yang dilakukan oleh beberapa musisi yang bermain musik secara bersama-sama dan dilakukan sambil berjalan untuk mengiringi suatu perayaan ataupun festival. Seiring dengan perjalananan waktu, marching band ber-evolusi menjadi lebih terstruktur dalam kemiliteran di masa-masa awal era negara kota. Bentuk inilah yang menjadi dasar awal band militer yang kemudian menjadi awal munculnya marching band saat ini.[1][2]

Meskipun pola marching band telah berkembang jauh, masih terdapat cukup banyak tradisi militer yang bertahan dalam budaya marching band, tradisi milter tersebut tampak pada atribut-atribut seragam yang digunakan, tata cara berjalan, model pemberian instruksi dalam latihan umumnya masih merupakan adaptasi dari tradisi militer yang telah disesuaikan sedemikian rupa.

Di Indonesia, budaya marching band merupakan pengembangan lebih lanjut atas budaya drum band yang sebelumnya berada di bawah naungan organisasi PDBI (singkatan dari "Persatuan Drum Band Seluruh Indonesia") yang dibina oleh Menpora (singkatan dari "Menteri pemuda dan olah raga"). Marching band lahir sebagai kegiatan yang memfokuskan penampilan pada permainan musik dan visual secara berimbang, berbeda dengan drum band yang lebih memfokuskan sebagai kegiatan olah raga. Dalam perkembangannya, marching band di Indonesia banyak mengadaptasikan variasi teknik-teknik permainan yang digunakan oleh grup-grup drum corps di Amerika, khususnya pada instrumen perkusi. Hal ini membuat corak permainan dalam penampilan marching band menjadi lebih mudah dibedakan dari corak penampilan drum band.


INSTRUMENT

Instrumen yang digunakan dalam penampilan marching band umumnya dapat dikelompokkan pada beberapa kategori menurut jenis dan cara memainkannya. Pengelompokkan ini secara tidak langsung pula mempengaruhi struktur organisasional kepelatihan yang umumnya dispesifikasikan menurut kategori-kategori tersebut, masing-masing kategori memiliki pelatih tersendiri. Selain kepelatihan, pengelompokkan ini umumnya berpengaruh pula pada perilaku sosial para pemain yang terlibat dengan menciptakan kelas-kelas sosial non-formal yang membentuk kebanggaan kelompok.

Pada mulanya ragam instrumen musik tiup yang digunakan dalam marching band identik dengan yang digunakan drum band. Namun pada perkembangannya, beberapa jenis instrumen musik tiup seperti cornet, clarinet, flugelhorn, saksofon (termasuk di dalamnya sofrano, alto, dan tenor), trombone, sousaphone, dan flute yang jamak digunakan drum band sudah ditinggalkan. Umumnya instrumen musik tiup yang digunakan dalam permainan marching band menggunakan nada dasar B♭ atau F. Jenis-jenis instrumen musik tiup yang digunakan marching band umumnya adalah:

Instrumen musik perkusi dalam kelompok ini merupakan jenis instrumen bergerak yang dibawa oleh pemain dan dimainkan dalam barisan seperti halnya instrumen musik tiup. Seksi yang memainkan instrumen musik perkusi sambil berjalan disebut juga sebagai drumline atau battery. Ragam instrumen musik perkusi yang digunakan marching band umumnya lebih sedikit dari yang digunakan pada permainan drum band. Instrumen-instrumen tersebut adalah:

  • Drum bass (umumnya menggunakan 4 sampai 6 jenis drum bass yang berbeda)
  • Simbal

Instrumen pit pada dasarnya merupakan instrumen musik perkusi yang bernada. Pada penampilan marching band umumnya jenis instrumen ini bersifat statis, pemainnya tidak ikut dalam barisan seperti kelompok instrumen lainnya melainkan memainkannya di bagian depan lapangan yang digunakan dalam penampilan. Ragam jenis instrumen yang digunakan marching band umumnya lebih bervariatif dibandingkan drum band. Beberapa grup marching band bahkan terkadang merakit sendiri instrumen pit untuk menghasilkan suara-suara unik dalam musik yang dimainkan. Jenis-jenis instrumen pit yang umumnya digunakan pada penampilan marching antara lain:

Instrumen bendera tidak digunakan untuk bermain musik, melainkan dimanfaatkan oleh pemainnya sebagai alat bantu aksi tari untuk menghasilkan efek-efek visual tertentu yang mendukung penampilan. Pada prakteknya, pemain instrumen ini tidak selalu menggunakan bendera sebagai aksesori, namun bisa menggunakan peralatan-peralatan lain seperti senapan kayu, selendang, panji-panji, atau bahkan sapu tergantung pada koreografinya untuk mendukung penampilan secara keseluruhan. Namun biasanya instrumen dasar yang digunakan adalah:

  • Bendera
  • Senapan kayu
Salah satu bentuk penampilan Texas marching band

Aspek-aspek yang terkait dalam penampilan marching band pada dasarnya dikelompokkan dalam dua kategori utama, yaitu aspek musikal dan aspek visual. Pengelompokkan ini berpengaruh pula pada metode pelatihan pada proses penyiapan sehingga sebuah grup marching band siap tampil. Umumnya latihan atas masing-masing aspek tersebut dilakukan secara terpisah terlebih dulu sebelum digabungkan sebagai satu penampilan utuh.

Lagu-lagu yang dibawakan dalam satu penampilan marching band umumnya membawa satu genre yang sama atau merupakan kombinasi atas beberapa genre dalam satu tema yang sama, namun demikian genre yang dibawa dalam satu penampilan tiap-tiap marching band bisa berbeda-beda.

Secara struktural, umumnya karakteristik lagu-lagu yang dibawakan tiap-tiap marching band memiliki tipikal elemen yang sama. Bagian "pembuka" yang ditujukan untuk meraih atensi penonton, "solo perkusi" atau disebut dengan feature, "balada" yang menampilkan solo musik tiup bersama dengan solo perkusi, dan "penutup" sebagai puncak dari penampilan. Di masing-masing elemen tersebut sering pula diwarnai dengan variasi teknik permainan, termasuk didalamnya permainan tempo, birama, yang ditujukan untuk mendapatkan satu dinamika permainan yang lebih seimbang, serta sebagai wahana menunjukkan kapabilitas grup yang bersangkutan.

Koreografi merupakan inti utama dari aspek visual dalam penampilan marching band. Di dalamnya melingkupi alur pola atas formasi baris berbaris yang digunakan, aksi-aksi tari yang dibawakan oleh para pemain bendera, gerakan-gerakan untuk menampilkan satu efek visual tertentu yang dilakukan oleh satu, sekelompok, atau seluruh pemain yang terlibat dalam formasi barisan. Seringkali penampilan marching band menggunakan aksesoris-aksesoris tambahan yang dimainkan oleh beberapa orang pemain untuk mendukung mendapatkan efek visual tertentu secara keseluruhan.

Bentuk penampilan marching band yang dinamis umumnya membuat kompleksitas aransemen lagu dan perancangan formasi barisan menjadi lebih tinggi. Para pelatih marching band instrumen musik umumnya memanfaatkan perangkat lunak sebagai alat bantu untuk memecahkan tingkat kompleksitas tersebut dalam proses aransemen lagu, melakukan ekstraksi atas partitur ke dalam tiap-tiap kelompok instrumen musik (termasuk instrumen musik tiup, perkusi, dan pit). Demikian pula halnya dengan pelatih visual, perangkat lunak digunakan untuk mempermudah perancangan formasi barisan, simulasi dan analisis atas kemungkinan terjadinya tabrakan antar pemain, dan visualisasi permainan tiap lagu dalam suatu penampilan.

Beberapa perangkat lunak yang tersedia saat ini bahkan mampu menggabungkan disain formasi barisan dan aransemen musik sehingga menjadi suatu bentuk model pertunjukan yang digunakan untuk memberikan gambaran atas simulasi pertunjukan kepada seluruh pemain yang terlibat dengan tujuan untuk mempermudah pemain dalam memahami alur pertunjukan dan aliran pergerakan formasi barisan.

Kompetisi umumnya menjadi perangsang atas kemajuan marching band di Indonesia. Dengan adanya kompetisi ini, masing-masing marching band umumnya berupaya untuk mengembangkan, atau mengadaptasikan teknik-teknik permainan tertentu untuk menunjukkan kapabilitas grup marching band tersebut, atau menciptakan satu keunikan yang berbeda sehingga menjadi ciri khas penampilan suatu grup marching band. Skala kompetisi ini bisa mencakup tingkat daerah, propinsi, ataupun nasional. Di Indonesia terdapat cukup banyak ajang kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan, namun yang umumnya frekuentif diselenggarakan secara konsisten adalah GPMB (Grand Prix Marching Band).

Main Trumpet Asyik-asyik Aja















emil satria putra


Budaya

trumpetOleh: Yo. Prihardianto JB/III A2/76

Meski suaranya apik, merdu dan mendayu, meniup trumpet sepertinya perlu ngotot, perlu ngeden, membuat kita ciut nyali, enggan untuk mencoba, khawatir turun berok. Padahal kalau kita tahu siapa dia dan paham cara meniupnya, bermain slompret ternyata mengasyikkan.

Di lapangan, seorang mayoret terlihat tengah beraksi memimpin barisan marching band. Bodinya yang sintal semampai bak peragawati berbalut kostum mini berhias rumbai-rumbai mampu menarik perhatian penonton. Terutama kaum cowok jomblo. Tongkat komandonya sesekali dilempar tinggi ke udara dan hap! …,lalu ditangkap.

Barisannya terdiri dari beberapa kelompok diantaranya peniup trumpet. Trumpet-trumpet yang dimainkan itu nampak serba mengkilat mengesankan kilau logam. Berkilau, karena sememangnya mereka terbuat dari logam, dari bahan kuningan dilapis krom, perak atau warna emas. Karena metal kuningan itulah maka alat musik tiup trumpet memperoleh julukan sebagai alat musik tiup logam alias brasswind. Julukan ini berlaku untuk seluruh brayat trumpet seperti Cornet, Corno, French Horn, Trombone, Tuba dsb.

Ukuran brasswind itu berbeda-beda, ada yang seukuran botol bir dan ada pula yang sebesar ular Anaconda, mewakili aneka wilayah nada, sopran, alto, tenor atau bas. Agar ringkas, mereka ditekuk-tekuk dan digelung-gelung. Model tekukan dan gelungan bervariasi, ada yang ditekuk mirip klip penjepit kertas memo, ada yang dibuat serupa peniti, ada juga yang dimodel spiral persis obat nyamuk bakar.

Bunyinya…, keras! Satu trumpet mampu berteriak sekuat tenaga 6 watt sehingga pantas kalau trumpet kemudian dipilih untuk mengisi formasi musik lapangan seperti marching band itu. Satu saja sudah vokal, apalagi kalau krubutan. Rame dah! Gaya memainkannya aneka macam, ada yang dipeluk, dikalungkan, atau cukup ditenteng saja.

Tidak hanya jago di lapangan, mereka ternyata juga jago main di kamar, di pagelaran musik kamar. Kita dapat menyaksikan aksinya, dapat mendengar suaranya yang kadang mendesah, kadang menyalak, disela bunyi alat musik gesek, alat petik, perkusi dan lain-lain.

Bukan itu saja, brasswind biasa pula hadir di panggung hiburan musik tanjidor, di panggung musik jazz, tampil mengiringi musik dansa hura-hura, mengiringi kirab prajurit kraton, mengiringi upacara pengibaran bendera, upacara pelepasan jenasah, mengiringi pertunjukan sirkus, memusiki film kartun semacam Tom & Jerry.

Di jalur musik jazz, nama beken seperti Louis Armstrong atau Mile Davis sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Mereka adalah para kampiun, para peniup trumpet kaliber dunia.

MENARIK DAN MENGESANKAN

Kita pasti penasaran melihat alat pengatur nada trumpet yang hanya berupa 3 buah piston. Meskipun berpiranti sederhana namun trumpet mampu menjelajah semua nada, lengkap hingga ke nada-nada kromatik. Menarik!

Dan lagi, meskipun berbeda ukuran, berbeda bentuk dan berbeda latar belakang, namun semua brasswind dibunyikan dengan cara yang sama yaitu dengan cara ditiup mouthpiecenya. Dan tanpa janjian, mouthpiece atau piranti bantu sumber bunyi masing-masing mereka memiliki desain yang nyaris serupa.

Piranti pengatur nada trumpet biasa kita sebut piston. Jumlah piston cuma 3 namun alat musik itu mampu menyuarakan banyak nada, do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol dst. lengkap hingga mencapai lebih dari 2 ½ oktaf.

Sistim piston yang dikembangkan untuk pertama kalinya di Jerman oleh Heinrich Stolzel pada 1814 dulunya berupa tabung atau selongsong mirip spet suntikan. Di dalam tabung terdapat piston beserta kelengkapannya seperti gagang piston dan per. Adanya per membuat piston dapat ditekan dan kembali membal.

Beberapa lubang seperti liang terdapat di bodi piston. Liang-liang ini berfungsi menyalurkan udara ke jalur nada yang dituju. Perubahan posisi piston, naik atau turun akan membuka atau menutup lubang saluran dan mengubah arah aliran serta jarak tempuh udara di dalam tabung. Makin panjang jarak, nada makin merendah.

Penemuan piston ini sangat penting. Dengan piston kita tidak perlu lagi repot-repot menggonti-ganti sulur bodi, menambah atau mengurangi panjangnya guna mendapatkan suara yang pas. Cukup dengan mencet-mencet tombol piston saja dan…, semuapun beres. Piston sebagai pengatur nada ini dapat diaplikasikan ke semua jenis alat musik brasswind, baik yang berukuran kecil, sedang maupun besar. Pengembangan sistim piston dilakukan kemudian oleh Perinet dari Berlin pada 1838.

CARA NADA DIHASILKAN

Cara kerja piston cukup simple. Posisi piston tanpa ditekan disebut posisi open. Kode angka 1 merujuk pada aksi menekan piston pertama, menggunakan jari telujuk tangan kanan, disebut posisi 1. Angka 2 adalah piston ke dua, ditekan dengan jari tengah, disebut posisi 2. Angka 3 untuk piston ke tiga ditekan dengan jari manis disebut posisi 3. Nomor urut piston dihitung mulai dari piston pertama yang berada paling dekat mouthpiece, piston kedua berada ditengah dan piston ke tiga berada dekat ke corong.

Posisi open, tanpa menekan, akan menghasilkan nada-nada harmoni C /G/c/e/g/bes dan c. atau DO – SOL – do – mi – sol – li – do. (Nada oktaf dicapai dengan bantuan formasi bibir atau embouchure yang mengetat ketika meniup mouthpiece).

Posisi 2, yaitu aksi menekan piston ke 2 akan membawa nada-nada open turun ½ step, nada. C menjadi B atau Do menjadi Si. Nada G turun setengah menjadi Fis atau Sol menjadi Fi dan seterusnya.
Posisi 1, yaitu menekan piston ke 1 akan membuat nada open turun sebanyak 1 step. Nada C menjadi Bes atau Do menjadi Li. Nada G turun satu menjadi F atau Sol menjadi Fa dst.

Posisi 1 dan 2 bersamaan, yaitu dengan menekan piston ke 1 dan ke 2 secara bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 1 ½ step. Nada C menjadi A atau Do menjadi La. Nada G menjadi E atau Sol menjadi Mi dst.
Posisi 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 2 step. Nada C menjadi Gis atau Do menjadi Sel. Nada G menjadi Dis atau Es atau Sol menjadi Ri dst.

Posisi 1 dan 3 bersamaan akan menurunnkan nada open sebanyak 2 ½ step.. Nada C menjadi G atau Do menjadi Sol dan Nada G menjadi D atau Sol menjadi Re dst.

Posisi 1, 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 3 step. Nada C menjadi Fis atau Do menjadi Fi dan nada G menjadi Cis atau Sol menjadi Di dst.

Model lain dari piranti pengatur nada adalah berupa slide yang operasinya dengan cara ditarik serta diulur. Uluran slide akan menambah ukuran panjang tabung, dan sebaliknya ketika slide ditarik, tabung akan memendek. Penambahan panjang bodi atau tabung dalam skala tertentu akan menurunkan nada sebanyak step tertentu pula.

Nada bisa diatur sesuai kemauan, tapi tentu dengan syarat harus ada bunyi. Sumber bunyi trumpet berasal dari mouthpiece. Mouthpiece ini bisa terbuat dari kayu, tulang, gading, perunggu, perak, emas, kuningan ataupun tembaga dll. Bentuknya seperti corong kecil, nyaris seperti model stetoskop pak dokter.

Cara membunyikannya dengan dibekapkan di bibir lalu ditiup. Variasi nada, tinggi-rendahnya, didapat dengan cara mengatur formasi bibir, merapat atau membiarkan tetap ndomble. Meski dapat saja mouthpiece itu menyuarakan beberapa nada, sesuai dengan posisi atau keketatan bibir kala meniup, tapi nada-nada yang dihasilkan belum memadai, belum cukup lengkap. Makanya mouthpiece perlu dibantu oleh piranti piston ataupun slide agar dapat bernada sempurna.

Meniup mouthpiece perkaranya hampir mirip dengan cara kita bersiul. Hanya saja ketika kita meniup trumpet, jangan lupa mouthpiecenya dipasang. Nah, dibalik mouthpiece itu, silahkan bibir sebal-sebul. Awalnya memang tidak gampang. Tapi setelah biasa, meniup trumpet bakal enak saja, tak perlu ngotot ataupun ngeden, tak perlu khawatir turun berok. Kagak ngaruh!

ANEKA DESAIN BRASSWIND
desain trumpet
Ada 3 desain utama brasswind yang kita kenal yaitu: desain trumpet, desain bugle dan desain horn. Desain trumpet memiliki ciri bertabung silindris dan bergelung pipih. Bentuk bugle berciri bergelung pipih dan bertabung kerucut. Sedang desain horn berciri bergelung melingkar, bertabung kerucut dan bercorong lebar seperti bunga sedang mekar.

Bentuk trumpet masa kini, kita semua tahu. Mouthpiece berada di salah satu ujung dan corong berada di ujung lainnya. Di tengah-tengah diantara bodi silindris yang bergelung pipih, terpasang piston sebagai alat bantu pengatur nada.

Jauh berabad sebelumnya, trumpet itu hanya berupa pipa kayu panjang dengan ujung mencorong, berbentuk seperti corong. Alphorn merupakan salah satu dari model trumpet kuno itu, panjangnya mencapai lebih dari 2 meter dan banyak digunakan di daerah pegunungan Alpen. Dari catatan diketahui bahwa bahan metal telah digunakan menggantikan bahan kayu untuk membuat trumpet panjang tersebut pada abad ke 13.

Di awal abad ke 16, benda panjang metal itu terlihat telah digelung dalam 3 putaran sehingga nampak ringkas, mudah ditenteng untuk diajak ngamen. Sama sekali masih polos, tanpa piranti pengatur nada, sehingga nada yang dihasilkan sangat minim. Kita mengenalnya sebagai sangkakala atau trumpet natural yang hanya bisa berbunyi Do - Sol serta nada oktaf do – mi – sol – li – do.

Upaya untuk melengkapi nada pada sangkakala terus dilakukan. Menjelang abad ke 18 crook atau batang pipa yang dapat diselipkan ke tabung pipa utama mulai dikenal, berfungsi untuk mengganti-ganti kunci nada. Tahun 1801 Anton Widinger dari Vienna mencoba melubangi bodi trumpet dan menempatkan klep bergagang yang dapat dibuka-tutup di atas lubang guna menghasilkan variasi nada. Pembaharuan terus berlangsung hingga pada akhirnya ditemukanlah piranti pengatur nada berupa piston.

Kata Cor atau Cornu dalam bahasa latin berarti horn atau tanduk kerbau. Bugle atau buculus dalam bahasa latin artinya kerbau muda alias gudel dalam bahasa Jawa.

Sosok cornet, demikian kita biasa menyebutnya, meskipun modelnya nyaris sama dengan trumpet, namun terlihat lebih gemuk dan lebih mengerucut. Suaranya terdengar lebih dalam dan lembut. Bugle atau cornet sudah dikenal sejak jaman purba, dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh, Di abad pertengahan, bugle yang terbuat dari metal mulai dipakai di kemiliteran, sebagai aba-aba apel pagi siang dan malam. Pada tahun 1810 Joseph Holliday dari Irlandia menerapkan sistem piston pada bugle cornet. Orang bilang, si bogel, bukan bugil, lebih mudah dimainkan dibanding trumpet.

Satu dari alat musik kuno berbentuk seperti tanduk atau horn dan terbuat dari tembaga dikenal dengan nama Lur. Model yang lain adalah Cor de chasse dalam bahasa Perancis yang berarti hunting horn. Dalam perkembangannya alat musik itu berubah menjadi Corno atau disebut juga French horn.

French horn digelung bulat melingkar dengan corong yang ekstra lebar. Jauh sebelum ditemukan sistem crook ataupun piston, Anton Hampel telah mengenalkan tehnik bermain Corno atau French horn dengan bantuan jari-jari tangan. Sambil memangku dan meniup French Horn, tangan kanan pemain merogoh corong dan memanipulasi lubang corong itu untuk menghasilkan nada-nada tambahan. Meskipun sistim piston kemudian digunakan, namun gaya main French horn yaitu dengan merogoh corong masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Sangat unik.

TROMBONE YANG MENYODOK

Alat tiup yang satu ini bukan berpiston tapi berslide. Tarik dan ulur, seperti itulah cara mengatur nada pada trombone slide. Dengan slide ini trombone dapat menghasilkan nada-nada lengkap.

Di masa lalu tombone disebut sackbut dari bahasa Perancis saquer yang berarti tarik atau cabut dan bouter yang berarti ulur. Sistem slide memungkinkan trombone untuk dimainkan secara glissando yaitu menggelincirkan suara tanpa terputus alias bisa meraung-raung. Trombone slide ini merupakan satu-satunya alat musik tiup yang sejak dari awal terciptanya sudah mampu menghasilkan nada lengkap, mampu meniti keseluruhan nada.

Anggota keluarga alat musik tiup brasswind masih banyak lagi seperti: Flugel horn, Melophone, Tuba, Sausaphone dll. Mereka beraneka ukuran serta mewakili aneka wilayah nada, dari wilayah nada sopran, alto, tenor, baritone hingga wilayah nada bas yang paling ngebas.

Ketika satu jenis dari mereka bisa kita mainkan, kita kuasai, maka yang lain bisa pula kita tangani karena mereka memiliki kesamaan dalam cara meniup maupun cara mengatur nada. Coba saja kalau enggak percaya.

About Bina Musika

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Bina Musika organisasi Marching Band di bawah naungan Departemen Agama pada Madrsah Aliyah Negeri 2 Model Medan yang beralamat Jl. Williem Iskandar No. 7A.